Mengenal Penyakit Rebah Semai Pada Tanaman Tomat Foto:pixabay.com
Mengenal Penyakit Rebah Semai Pada Tanaman Tomat Foto:pixabay.com

Dalam budidaya tanaman  tidak lepas dari gangguan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa serangan hama, penyakit dan gulma, diantaranya adalah serangan penyakit rebah semai atau rebah kecambah , bercak daun , keriting daun, ulat daun dan ulat grayak. Penyakit rebah semai atau sering dikenal dengan istilah damping off menyerang pada waktu tanaman masih muda berumur 5-10 hari, dan akibat serangan penyakit ini pangkal batang membusuk kemudian tanaman rebah.

Baca Juga: Prospek Budidaya Jamur Tiram di Masa Pandemi

Pengertian Penyakit Rebah Semai

Penyakit rebah semai (damping off) merupakan penyakit penting pada pesemaian tanaman sayur sayuran atau tanaman yang masih muda sehingga banyak menimbulkan kerugian dipembibitan, infeksi penyakit menyerang organ batang atau pangkal akar dan cepat penyebaranya terutama pada kondisi tanah lembab.

Gejala penyakit mula mula pada pangkal batang tampak bercak berwarna coklat kemudian memluas sehingga mengelilingi permukaan pangkal batang dan menyebabkan pembusukan dan akhirnya batang tidak mampu lagi menopang batang bagian atas dan daun sehingga tanaman rebah. Serangan penyakit menular ke tanaman lain di sekitarnya dengan cepat dan akhirnya banyak tanaman mati, sehingga terbentuk ruang ruang kosong pada bedeng pembibitan /seperti tidak tertanami yang makin lama makin luas.

Penyakit disebabkan oleh jamur Phytium aphanidermatum, Rhizoctonia solani, Sclerotium rolsfii dan berkembang cepat jika tanah dalam kondisi lembab (Semangun, 2007)   Berdasar tingkat pathogenisitasnya termasuk patogen lemah karena hanya mampu menginfeksi jaringan tanaman yang masih lunak atau tanaman muda, tetapi jika kondisi lingkungan mendukung dapat menyerang tanaman dewasa. Pada kondisi ektrem atau lingkungan yang kurang menguntungkan untuk kehidupan seperti kekeringan maka   jamur mampu membentuk struktur tahan seperti sclerotia yang mampu bertahan dalam tanah dan aktif kembali jika kelembaban mencukupi untuk tumbuh sehingga serangan penyakit rebah semai selalu ditemui dalam budidaya tanaman (Tuite, 1969).

Pengendaliannya

Pengendalian penyakit rebah semai dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif senyawa kimia yang mudah diaplikasikan, tetapi bahan ini memiliki kelemahan seperti meninggalkan residu yang sulit terurai sehingga menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, selain itu harga relatif mahal dan menjadikan ketergantungan petani.  Dengan promosi yang gencar mendorong petani menggunakan fungisida dengan bahan aktif propineb, maneb, mankozeb dan cloratolamil. Pengunaan bahan aktif yang terus menerus dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan resistensi pada pathogen (Natawigena, 1989).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *