Alternatif Berkebun Minim Lahan
Aeoponik/ sumber foto: rumah.com

Semula keingingan berkebun selalu terkendala lahan yang memerlukan lahan luas alhasil harus mencari cara alternatif berkebun minim lahan. Tak ayal, niat Bertani pun harus diurungkan karena kendala tersebut. Padahal seiring berjalannya waktu, telah muncul beragam inovasi teknik pertanian bisa dilakukan. Apalagi inovasi teknik pertanian yang muncul banyak yang bisa dilakukan oleh penduduk perkotaan, salah satunya aeroponik.

Kata Aeroponik berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari kata “aeros” yang berarti udara dan “ponus” berarti daya. Jadi, Aeroponik bisa diartikan sebagai Teknik pertanian tanpa menggunakan tanah alias udara sebagai media tanam. Sehingga akar tanah bukan menyentuh tanah tapi menyentuh udara beserta air yang diisi nutrisi tanaman.

Nutrisi tanaman ini wajib digunakan untuk menyediakan unsur-unsur yang dimiliki tanah seperti unsur harga. Sehingga tunas dan daun bisa tumbuh selayaknya di tanah. Unsur yang diperlukan untuk menumbuhkan tanaman yakni nitrogen, fosfat untuk pembentukan akar, kalium berguna dalam proses fotosintesis, sulfur,kalsium, dan magnesium yang tersedia di toko tanaman.

Saat ini penggunaan aeroponik sudah banyak dilakukan oleh penduduk perkotaan. Selain pengaplikasian yang mudah, perawatan, dan hasil panennya juga tidak kalah dengan media tanam tanah. Varietas tanaman yang bisa dilakukan dengan aeroponik sayuran daun dengan waktu panen yang cepat, seperti kangkung, bayam, sawi, pak coy, dan selada. Selain itu bisa ditanam kentang, umbi, ketela pohon.

Aeroponik/Sumber Foto: jurnalagro.com/

Konsep bertanam di udara pada sistem aeroponik tentu memiliki berbagai sisi positif, beberapa manfaat dari sistem aeroponik:

  • Meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui ketersediaan oksigen pada akar. Ketersediaan oksigen yang cukup pada daerah perakaran akan merangsang proses respirasi pada akar. Bila proses respirasi akar optimal, maka nutrisi atau yang diberikan dapat diserap secara maksimal oleh akar tanaman (Fauzi dkk., 2013).
  • Lebih hemat dalam penggunaan air. Sistem aeroponik diketahui menggunakan air kurang dari 10% sitem pertanian konvesional (Shaerkey dan Ernst, 2017). Fakta ini tentu sangat cocok untuk mendukung proses pertanian yang lebih berkelanjutan mengingat terbatasnya ketersediaan air dunia.

Kebutuhan untuk melakukan Teknik pertanian aeroponik untuk diawal memang akan menguras kantong. Karena kebutuhan tersebut dari alat media tanamnya sendiri yang perlu dibuat dari bak penampung, pompa, sampai pompa beserta selang. Sebagai Langkah awal melakukan aeroponik, hal ini sebanding dengan daya gunanya yang lama.

Bagi penduduk perkotaan, Teknik pertanian aeroponik ini menjadi jalan tengah diantara kendala tak punya lahan tapi ingin berkebun atau menghasilkan sayuran sendiri. Komunitas yang menerapkan hidroponik juga kini telah banyak dilakukan, bahkan sudah ada yang dijadikan sebagai komoditas pertanian dengan lahan luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *