Combine Harvester Jadi Pilihan Untuk Pemanenan Padi Foto:pixabay
Combine Harvester Jadi Pilihan Untuk Pemanenan Padi Foto:pixabay

Kegiatan pemanenan padi merupakan salah satu tujuan akhir dari kegiatan budidaya tanaman padi, untuk diambil butir-butir padi yang sudah masak atau matang. Kegiatan pemanenan padi pada umumnya dilakukan secara tradisional atau manual menggunakan alat bernama ani-ani (berbentuk pisau kecil). Akan tetapi penggunaan alat tersebut dinilai tidak efisien dan cenderung memakan waktu yang lama serta biaya yang tinggi, sehingga para petani mulai beralih ke pemanfaatan teknologi inovasi terbarukan yakni Mesin Pemanen atau dikenal dengan istilah Combine Harvester. Baca Juga:Pemanfaatan Limbah Sekam Padi untuk Mengurangi Pencemaran Lingkungan

Apa Itu Combine Harvester?

Combine Harvester merupakan suatu alat pemanen padi yang dapat memotong bulir tanaman yang berdiri, merontokkan dan membersihkan gabah sambil berjalan dilapangan (Iswari, 2012). Combine Harvester menjadi sebuah mesin paket komplit dan praktis dalam pengoperasiannya. Sejarah Combine Harvester dimulai oleh penemuan mesin penuai pertama karya Cyrus McComick asal Amerika Serikat, dimana beliau membuat sebuah alat pemanen dengan bantuan tenaga kuda untuk menariknya. Namun dengan seiringnya jaman maupun teknologi, penggantian tenaga kuda beralih ke mesin yang lebih maju.

Komponen dan Mekanisme Kerja Combine Harvester

Combine harvester berdasarkan cara perontokannya dibagi menjadi 2 yakni tipe Whole feeding dan tipe Head type feed combine harvester. Perbedaan utama yang mencolok dari kedua tipe tersebut adalah output yang dihasilkan. Pada tipe Whole feeding semua hasil potongan meliputi padi dan jerami masuk kedalam bagian perontokan (thresher), sedangkan tipe Head type feed hanya bagian malai saja yang masuk kedalam bagian perontokan (thresher) lalu untuk jerami akan terjepit oleh bagian pembawa (conveying). Komponen combine harvester meliputi:

  1. Header Unit: didalam header unit terdapat pengarah (reel guide) dan pisau pemotong (cutter bar). Pengarah (reel guide) memiliki fungsi mengarahkan dan memegang batang padi kearah sistem pemotong agar tetap dalam posisi tegak selama kegiatan pemotongan. Sedangkan untuk pisau pemotong (cutter bar) berfungsi sebagai alat potong.
  2. Conveyor Unit: Conveyor unit memiliki fungsi untuk mengangkut/membawa batang padi ke dalam mesin perontok.
  3. Komponen perontok (thresher unit): berfungsi sebagai alat perontok untuk memisahkan antara malai dengan butiran gabahnya.
  4. Pemisah dan Pembersih (cleaner and separator): memiliki fungsi untuk memisahkan butiran gabah yang masih menempel pada jerami dan membersihkannya dari kotoran-kotoran yang ikut saat proses perontokan.
  5. Grain output: berfungsi sebagai tempat keluar (output) gabah yang sudah bersih dari dalam cleaner and separator.
  6. Main frame: sebagai kerangka utama dari combine harvester untuk tempat terpasangnya atau melekatnya komponen-komponen combine harvester yang lainnya.
  7. Transportation unit: sebagai alat untuk berjalan combine harvester di lahan.
  8. Driving panel: merupakan bagian kontrol/kemudi combine harvester untuk mengatur kecepatan, dan kustomisasi selama pengoperasian.
  9. Engine: berfungsi sebagai sumber penggerak utama seluruh komponen yang ada pada combine harvester.
  10. Kanopi: memiliki fungsi atau kegunaan untuk melindungi operator/pengemudi dari sinar matahari.
Kelebihan
  1. Efisiensi waktu dan tenaga. Pemanenan padi menggunakan combine harvester terbukti lebih efektif karena kegiatan panen dapat dilakukan sekali jalan dalam waktu yang singkat dan hasil yang didapatkan langsung dapat dijemur tanpa memerlukan proses lanjutan lainnya. Selain itu juga dengan combine harvester hanya diperlukan 1-2 orang tenaga saja untuk sebagai operator maupun pengawas dalam kegiatan pemanenan.
  2. Presentase Kehilangan atau susut hasil rendah. Pemanenan padi secara tradisional cenderung mengalami kehilangan gabah yang lebih besar akibat banyak tangkai padi yang terinjak sehingga tidak ikut dalam pemotongan.
  3. Biaya panen yang relatif lebih murah. Penggunaan combine harvester sudah disediakan oleh pemerintah daerah masing-masing, sehingga para petani hanya membayar untuk biaya perawatan saja. Hal ini dapat menekan biaya panen yang terlalu tinggi bila dilakukan secara konvensional.
Kekurangan
  1. Harga alat combine harvester mahal. Meskipun combine harvester sudah disediakan atau difasilitasi pemerintah untuk digunakan para petani, nyatanya dilapangan ketersediaan combine harvester masih kurang sehingga para petani harus menunggu giliran. Namun masa pemanenan padi yang terkadang dapat bersamaan membuat beberapa petani memilih membeli sendiri combine harvester dengan harga yang sangat mahal agar dapat melakukan proses pemanenan.
  2. Hasil gabah kurang baik. Dengan combine harvester jenis gabah yang baik maupun buruk dari segi fisik tidak dapat terpilah, karena mesin bekerja secara penuh memotong dan mengambil gabah secara keseluruhan. Berbeda dengan cara tradisional, yang dapat dipilih secara langsung mana jenis gabah yang baik atau tidak untuk dipanen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *